3466971p

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Ketua Komisi I DPR RI bidang Luar Negeri, Yusron Ihza Mahendra, di Jakarta, Senin (24/8), menyatakan, “pencaplokan” budaya Indonesia untuk tujuan komersial yang dilakukan Malaysia merupakan tindakan menyakitkan dan tidak dapat dibenarkan.

“Apa lagi, Malaysia terus melakukan hal itu berulang-ulang, tanpa rasa bersalah dan tanpa perasaan harga diri,” tandasnya kepada ANTARA. Ia mengatakan itu, menyusul pencantuman sosok gadis sedang membawakan ’tari pendet’ dari Bali di salah satu iklan pariwisata Malaysia yang disiarkan melalui tayangan televisi.

“Seharusnya, Pemerintah Indonesia perlu memberi pelajaran yang tegas kepada Malaysia untuk menghentikan langkah yang tidak terpuji itu,” kata Yusron Ihza Mahendra menegaskan. Dalam kaitan itu, menurut dia, pihak Departemen Luar Negeri (Deplu) serta Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata harus segera bertindak.

“Kedua institusi resmi itu harus berada pada barisan terdepan dalam menghentikan perangai Malaysia yang tidak menyenangkan itu,” tandas doktor ilmu politik jebolan Univesitas Tsukuba, Jepang ini.

Ambil langkah politis

Yusron Ihza Mahendra juga mengusulkan, karena langkah hukum cenderung berliku-liku dan memakan waktu, sebaiknya ambil saja langkah politis. “Ini harus menjadi pilihan. Langkah politis dimaksud dapat merupakan tekanan diplomatik. Sebagai misal, menarik Duta Besar kita dari Malaysia, dan atau meminta Duta Besar Malysia meninggalkan Indonesia,” tegasnya dalam nada tinggi.

Langkah lain, seperti pencabutan konsesi bisnis atau pengurangan kesempatan investasi Malaysia di Indonesia. “Ini tentu dapat pula dipertimbangkan, akan tetapi lebih merupakan prioritas kedua,” katanya menjelaskan.  Melihat pengalaman selama ini, lanjutnya, tindakan-tindakan ringan sekedar mengirim nota protes, sudah tidak cukup.

“Karena itu, yang diperlukan sekarang adalah sebuah tindakan tegas yang lebih nyata dan segera,” ujarnya. Ia menilai, sama seperti dalam hal klem atas Blok Ambalat, sebenarnya Malaysia bukan tak menyadari perbuatannya itu tidak benar.

“Akan tetapi sikap Pemerintah Indonesia yang lemah dan kurang tegas telah membuat Malaysia terus melakukan upaya coba-coba. Akibatnya, tiap kali Malaysia melakukan pencaplokan seperti di atas, tiap kali pula masyarakat Indonesia memberikan reaksi yang keras,” ungkapnya.

Karena itu, menurut dia, kini merupakan saatnya bagi pemerintah untuk mendengarkan aspirasi masyarakat serta bertindak tegas dan segera.  “Tidak ada lagi yang perlu ditunggu,” tegas Yusron Ihza Mahendra.

Sumber : Antara

Iklan