Ada yang berbeda dengan suasana di sekolah kami pada (27/6). Sama sekali tidak ada siswa berseragam sekolah untuk melakukan kegiatan ekstrakurikuler yang memang sudah dijadwalkan pada hari Sabtu setiap minggunya. Pak Satpam yang setiap harinya mengenakan seragam ketika bertugas pun tampak berbeda, mereka justru mengenakan baju batik. Di pintu gerbang pun juga terdapat gapura buatan yang dililiti dengan bunga-bunga.

Beberapa mobil terlihat masuk ke halaman parkir sekolah kita, padahal biasanya jarang mobil yang mengantar sampai masuk ke halaman, biasanya mobil pengantar siswa hanya berhenti sampai di pinggir jalan depan sekolah saja. Ketika pintu mobil dibuka, yang keluar bukan siswa berseragam sekolah, tetapi malah siswa-siswa yang memakai baju kebaya.

Ternyata pada hari itu, siswa kelas XII diwisuda. Mereka datang bersama dengan orang tua. Pada hari itu mereka diwajibkan memakai kebaya (bagi siswi), dan batik (bagi siswa). Mereka terlihat senang, ada yang malu –malu dan terlihat kurang percaya diri karena tidak terbiasa mengenakan kebaya, ada juga yang terus-terusan menggandeng orang tuanya.

Mereka kemudian menuju ke arah gapura buatan dan berjalan masuk mengikuti arah karpet merah yang dibentangkan. Sebelum sampai di tengah lapangan sekolah kita dimana acara wisuda akan dilangsungkan, para wisudawan disapa dahulu oleh beberapa perempuan cantik yang mengenakan terusan hitam manis dan beberapa laki-laki yang telah berjas lengkap dengan dasi. Perempuan dan laki-laki ini adalah siswa sekolah kami sendiri yang bertugas sebagai penerima tamu. Mereka bertugas menyalurkan kotak kue kepada para tamu undangan dan menyerahkan kalung kepada para wisudawan.

Tenda sudah didirikan di lapangan sekolah, kursi tamu juga sudah disediakan, panggung lengkap dengan tata cahanya juga sudah dipasang. Acara wisuda pun dimulai pada pukul 08.00 WIB. Acara pertama adalah pertunjukan tari remo tunggal sebagai pembuka. Saat yang paling riuh adalah ketika kepala sekolah serta wakilnya dan delapan wali kelas memasuki lapangan. Para wisudawan bertepunk tangan menyambut wali kelas yang sudah satu tahun membimbing merea. Acara juga diisi dengan penampilan dari grup paduan suara sekolah yang menampilkan beberapa lagu. Acara formal dimulai dengan sambutan dari kepala sekolah.

Tiba pada puncak acara adalah serah-terima ijazah. Para wisudawan dipanggil ke atas panggung untuk menerima ijazah mereka. Raut muka gembira mereka tidak bisa disembunyikan setiap kali berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.

Untuk selanjutnya mereka memang akan meninggakan SMA Negeri 6 untuk melangkah menjalani masa depannya masing-masing. Jika mengingat tiga tahun lalu ketika mereka dengan rasa was-was melihat pengumuman penerimaan siwa baru di SMA Negeri 6, dan kemudian rasa was-was itu berubah menjadi kelegaan tersendiri karena mereka telah diterima di SMA Negeri 6 setelah nilai UNAS SMP mereka bersaing memasuki SMA ini. Kini setelah penerimaan itu, mereka harus dilepas lagi. Sebuah pelepasan untuk membuka kelopak-kelopak petualangan baru mereka sebagai seorang mahasiswa. (le2)