2049451pKamis, 30 April 2009 | 06:37 WIB
KOMPAS.com — Cecilia Inez Lopez (9) duduk di depan televisi selama sembilan jam dalam satu hari. Bibinya yang berusia 16 tahun, Ilse, menghabiskan waktu dengan berkirim pesan singkat kepada teman-temannya. Selama lima hari ini kedua gadis itu hanya bisa melihat kehidupan sehari-hari lingkungan sekitarnya melalui jendela rumah. Kedua orangtua mereka—seperti halnya mayoritas warga di Mexico—melarang mereka keluar rumah gara-gara kasus virus flu babi.

”Kami seperti singa di dalam kandang. Hanya bisa duduk-duduk di sini sepanjang hari sambil mendengarkan berita tentang virus itu. Kalau di dalam rumah terus selama seminggu atau lebih, kami bisa jadi depresi atau gila,” kata nenek Cecilia, Constancia Sosa (52).

Bagi keluarga Lopez yang semuanya berjumlah enam orang, rumah mungil seluas 16 meter persegi di kawasan perumahan kelas menengah ke bawah seakan terasa seperti bungker. Sosa mengaku tidak tahan lagi dengan kelakuan anak perempuannya, Ilse. Sejak sekolah ditutup, Ilse giat berlatih tarian tradisional Meksiko di ruang keluarga. Tarian yang banyak menggunakan entakan kaki itu hampir membuatnya gila karena Ilse berlatih di tengah ruang keluarga. Jika tidak berlatih tarian, Ilse sibuk berbicara di telepon atau SMS teman-temannya.

Sosa juga tidak tahan lagi dengan kelakuan Cecilia dan adiknya yang berusia 10 tahun yang sering naik turun tangga karena tidak ada kegiatan lain. Mereka tidak boleh keluar rumah. Hanya ayah Cecilia yang boleh keluar rumah karena harus bekerja, belanja makanan, serta membeli penutup mulut dan hidung.

”Bukan salahku. Saya bosan karena tidak ada yang bisa dikerjakan. Paling hanya main, nonton televisi, dan tidur,” kata Cecilia.

Mexico yang berpenduduk 20 juta jiwa itu telah mengisolasi diri sejak kasus flu babi merebak. Imbauan pemerintah intinya untuk mengantisipasi kian meluasnya penyebaran virus H1N1 ini. Masalahnya, sebagian besar warga khawatir jika sekolah, bioskop, dan kafe ditutup, lama-kelamaan orang bisa menjadi gila. Pasalnya, orang biasanya menghabiskan waktu luang dengan menonton film atau sekadar mengobrol di kafe.

Pemerintah Mexico sejak Selasa lalu melarang sebanyak 25.000 restoran melayani konsumen yang datang, tetapi masih boleh membuka layanan pesan antar. Alasannya, orang bisa tertular flu babi dari orang lain yang sama-sama makan di restoran itu. Bukan hanya itu, pusat kebugaran (gym), kolam renang, dan tempat bermain biliar pun harus ditutup. Tempat hiburan malam, museum, kebun binatang, serta tempat wisata, termasuk piramida suku Maya dan Aztec, juga ditutup tanpa batas waktu yang jelas. Sementara itu, sekolah baru akan dibuka kembali pada 6 Mei. Itu pun jika situasi dianggap sudah membaik.

Pasar La Merced juga sepi. Padahal, biasanya ribuan orang berjubel di dalam pasar itu. ”Saya lebih takut barang dagangan saya tidak laku daripada dengan virus itu. Dari mana saya dapat uang untuk makan,” kata Jaime Blas (50) yang menjual biji labu dan kemiri sambil mengenakan masker penutup mulut.

Sementara itu, penjual buah alpukat, Rodrigo Antonio Rebollo (39), mengaku tidak punya uang lagi untuk membeli susu. Sebagai pengganti, ketiga anaknya terpaksa minum susu kedelai dan kopi pemberian teman-temannya. (AP/LUK)

Sumber : Kompas Cetak