Angka dua dan tiga jadi angka cantik untuk SMANAPALA pada tahun ini. Pasalnya, (21/3) ekstrakurikuler Pencinta Alam SMA Negeri 6 Surabaya ini mengadakan SMANAPALA Wall Climbing Competition (SWCC). Lomba Wall Climbing ini memang merupakan program kerja yang diadakan oleh SMANAPALA tiap tahun. Tahun ini adalah tahun ke-3 pelaksanaan SWCC. Selain itu acara ini juga diadakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun SMANAPALA ke-23 yanng bertepatan pada 23 Maret.

Lomba ini dibuka untuk umum kategori usia dibawah 19 tahun. Peserta datang dari beberapa daerah di Jawa Timur. Jumlah peserta kurang lebih 170 orang. Acara berlangsung selama dua hari, mulai 21 Maret pagi sampai 22 Maret sekitar pukul 21.00 WIB. Hari pertama adalah kompetisi untuk peserta perempuan. Kompetisi bagi peserta laki-laki berlangsung pada hari selanjutnya. Panitia sengaja mengundang juri dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI).

MAKRISA tertarik melihat banyaknya peserta yang masih terhitung muda pada kompetisi ini. MAKRISA mendatangi Kharisma, salah satu peserta anak-anak. Kharisma adalah peserta dari club panjat tebing ROCK, Gresik yang kini masih duduk di bangku kelas 3 SD. “Aku nggak takut walau musuhya sudah besar. Kan, nanti kalau menang uangnya bisa dipakai buat beli-beli terus dikasih ke Ibu juga,” ceritanya lugu.

Konsep acara tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pada SWCC tahun ke-1 didinginkan dengan fun music oleh band yang didatangkan oleh panitia. SWCC tahun ke-2 SWCC diadakan bebarengan dengan SMA Negeri 6 Cup.

Panitia juga menyediakan penginapan bagi peserta dari luar kota. Membludaknya peserta jadi kerepotan tersendiri bagi panitia. Peserta yang menginap berjumlah sekitar 120 orang. “Kita sempat kekurangan karpet karena membludaknya peserta, selain itu sie perlengkapan kesusahan dapat karpet karena swadaya memang kurang,” tutur Reddy, salah satu panitia.

Ditemui setelah acara, panitia sempat bercerita kepada MAKRISA mengenai masalah-masalah yang mereka hadapi selama tiga bulan persiapan acara. Kesulitan panitia rata-rata datang dari masalah intern sesama anggota panitia dan masalah dana. “Kita sendiri nggak susah dapat persetujuan dari kepala sekolah, cuma butuh waktu satu minggu buat penandatangan proposal yang kita ajukan,” ujar Nurul, sie acara. Mereka sempat lesu karena tidak begitu banyaknya donatur disebabkan ada beberapa ekstrakurikuler lain di SMA Negeri 6 juga yang akan mengadakan acara. Selain itu pihak OSIS yang awalnya menawarkan bantuan donatur hanya dapat memberi sumbangan sebesar 2 % dari total hadiah tunai. Tapi untungnya, beberapa proposal yang mereka ajukan ke sponsor berhasil ditembus.

Beberapa sponor juga ada yang membuka stan pada saat kompetisi berlangsung. Selain itu ada juga beberapa sponsor yang memperdagangkan barang mereka melalui panitia dengan sistem bagi hasil.

Walaupun tidak sedikit masalah yang dihadapi, SMANAPALA akhirrnya mampu membagikan hadiah total 5 juta rupiah kepada sepuluh pemenang. Perlu diakui kesuksesan SMANAPALA tahun ini karena bisa mengadakan acara besar apalagi sampai jumlah pesertanya melebihi perkiraan panitia.

By : (Le2)