1436024pKOMPAS.com — Masuk ke kawasan Harmoni, melewati jembatan, pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor masih bisa memandang Patung Hermes. Patung itu ada di sisi kiri, dari arah Jalan Hayam Wuruk, dan tentunya di sisi kanan dari arah sebaliknya. Patung yang terbuat dari perunggu ini berbentuk sosok pria dengan kepala dan mata memandang ke atas, sementara tangan kanan seperti menunjuk ke langit.

Dalam mitologi Yunani, Dewa Hermes digambarkan sebagai dewa pelindung para pedagang. Bangsa Romawi menamakan Dewa Hermes sebagai Dewa Mercurius. Patung yang sudah puluhan tahun menempel pada jembatan Harmoni itu sempat raib di seputaran Agustus, nyaris 10 tahun lalu.

Setelah akhirnya ditemukan kembali, Pemprov DKI memutuskan untuk membuat replika patung tersebut. Patung Hermes yang asli diperkirakan dibuat di tahun 1900-an, kemudian dipasang di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta (MSJ) pada tahun 2000, sebagai atraksi tambahan buat museum ini, tentunya, sedangkan replika patung dipasang di jembatan Harmoni.

Menyebut Harmoni tentu, seharusnya, tak hanya Patung Hermes yang jadi tengara. Di sana pernah berdiri Gedung Harmoni, yang didirikan tahun 1810. Gedung tempat pesta warga Belanda itu dirobohkan pada Maret 24 tahun lalu. Lokasi Gedung Harmonie, begitu tertulis di tembok atas bagian muka gedung itu, dulu ada di pojokan Jalan Veteran dan Jalan Majapahit. Kini lahan bekas gedung itu menjadi bagian dari lahan parkir Sekretariat Negara

Dalam catatan sejarah, gedung Harmoni disebut merupakan tempat berkumpul masyarakat Hindia Belanda. Pendirian gedung itu dipelopori oleh Reinier de Klerk tahun 1776. Bangunan itu berdiri di Jalan Pintu Besar Selatan. Namun, karena kawasan itu semakin jorok, oleh Daendels bangunan itu dipindahkan agak lebih ke selatan. Ya di pojok Jalan Veteran dan Jalan Majapahit itulah kemudian bangunan baru didirikan.

Hotel des Indes adalah tengara lain yang menguatkan Harmoni sebagai kawasan yang sibuk. Hotel ini dilibas pembangunan tahun 1971. Hotel yang letaknya tak jauh dari Gedung Harmoni ini ada di Jalan Gajah Mada. Di lokasi ini kemudian berdiri Duta Merlin, pusat belanja.

Hotel des Indes resmi beroperasi pada 1856 di tanah yang masih milik Reiner de Klerk. Sejarah juga merekam, Hotel des Indes bisa disejajarkan dengan Hotel Raffles di Singapura. Jika hotel itu di Singapura masih berdiri kokoh dan menjadi hotel berbintang yang bergengsi, maka Hotel des Indes sudah tak berbekas. Tak ada yang bisa diperlihatkan kepada generasi penerus.

Yang tersisa dari Harmoni hanyalah nama Harmoni itu sendiri. Bangunan bersejarah yang mengitari Societeit de Harmonie lebur bersama tanah di sekitar kawasan itu. Gambar di masa lalu serta sejarah berbagai gedung mewah di abad 19 itu juga sulit ditemukan. Sepotong sejarah pun hilang, setidaknya sejarah bagi penerus bangsa ini.