Suatu Minggu pagi, kami berjalan-jalan di sekitar Tugu Pahlawan, dimana pada setiap hari Minggu daerah tersebut selalu dipenuhi oleh para pedagang dan pejalan kaki. Sepintas, tidak ada yang istimewa di pasar pagi tersebut. Kami melihat para pedagang yang berusaha menarik perhatian pengunjung, para pembeli yang berusaha menawar harga dagangan, dan banyak hal lumrah lainnya. Tapi langkah kami terhenti, kala melihat seorang pria tua duduk, di sebelah bertumpuk-tumpuk kerupuk sarmiler, menanti pengunjung yang hendak membeli barang dagangannya tersebut.

Dengan memakai kemeja dan celana panjang disertai topi yang melindungi kepalanya dari sinar matahari pagi, ia duduk pada sebuah kursi kecil di tengah hiruk pikuk pasar. Meskipun dagangannya terlihat “sepi”, senyum dan pandangan ramah tidak pernah lepas dari wajahnya yang sudah berkeriput. Pembawaannya yang menyenangkan itulah, yang membuat kami simpati dan ingin mengetahui lebih banyak hal dari diri pria berkulit cokelat gelap tersebut.

Awalnya, kami sedikit canggung untuk mengajaknya berbincang-bincang. Terlebih lagi, pria bernama Waskito ini hanya bisa berbahasa Jawa. Tapi setelah beberapa saat, suasana berubah menjadi santai dan menyenangkan. Sesuai dengan pembawaannya, Waskito ternyata memiliki sifat yang ramah pula.

Waskito tinggal di Surabaya seorang diri. Istri dan anaknya tinggal di Jawa Tengah, tepatnya di Blora. Waskito bekerja sebagai pedagang kerupuk sarmiler untuk menambah penghasilannya dari bertani. Jika sedang tidak berdagang kerupuk, laki-laki berpostur tubuh tidak terlalu tinggi ini bertani di kampung halamannya bersama sang istri. Kemudian saat kembali ke Surabaya, ia membawa kerupuk dagangannya, yang memang berasal dari Jawa Tengah.

Di Surabaya, Waskito selalu tidur di masjid-masjid. Saat bekerja, Waskito selalu berkeliling Surabaya atau mangkal di tempat-tempat seperti pasar pagi di sekitar Tugu Pahalawan. Dagangannya, kerupuk yang terbuat dari singkong ini, biasanya baru terjual habis setelah 4 hari ia jajakan, dan ia mendapat total Rp 400.000,00 sebagai hasil kerjanya menjual 200 bungkus kerupuk sarmiler tersebut.

Hal ini ia lakukan dengan penuh keikhlasan. Anak-anaknya sudah bekerja. Namun karena suatu alasan, mereka tidak pernah mengirimi Waskito uang. Karena itulah, mau tidak mau, Waskito harus bekerja demi memenuhi keperluan hidupnya.

Meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad, Waskito tidak terlihat rapuh di tengah kesulitannya. Ia justru terlihat tegar dan berusaha keras menghidupi keluarganya. Ia juga termasuk laki-laki yang cukup kuat. Untuk orang seusianya, bukanlah hal yang mudah untuk mengelilingi daerah-daerah di Surabaya sambil memikul barang dagangannya yang tidak sedikit.

Waskito hanyalah orang biasa, sama seperti kita. Tapi, Waskito si pedagang kerupuk yang sudah renta ini dapat menjadi sosok yang inspiratif bagi kita. Hanya dengan obrolan singkat, kami mendapat banyak pelajaran yang patut dicontoh dari pria berusia 70 tahun ini. Kami menjadi sadar betapa banyaknya nikmat yang diberikan Tuhan kepada kami dan betapa jarangnya kita bersyukur karena hal tersebut. Kita juga mendapat banyak pelajaran mengenai kesabaran, ketabahan, dan yang pasti, perjuangan hidup.

 

By : Riska, Karin, Dita, Rayi Bhre, dan Dimas.